Pendampingan Usaha Kelompok Masyarakat di Desa Muara

Salah Satu Solusi Alternatif Mata Pencaharian
Masyarakat Eks Pembalak

Usaha Penggemukan Sapi.


Ibu Rumah tangga Membantu suaminya menggembala ternak sapi;  kondisi sapi kelompok yang siap jual   ;      Foto : Aprilino

Seharusnya sapi-sapi tersebut sudah terjual pada akhir tahun 2006 yang lalu (musim hari raya Qurban tahun 2006), namun ketidak cocokan harga yang ditawarkan oleh beberapa calon pembeli menyebabkan sapi-sapi tersebut tetap dipertahankan sampai akhir tahun 2007 ini. Dengan harapan akan ada perbaikan dan peningkatan kualitas agar harga dari  sapi-sapi tersebut jadi lebih baikdan lebih tinggi.

Usaha penggemukan sapi dilakukan oleh dua kelompok masyarakat binaan WBH, yaitu Kelompok Hijau Lestari yang berlokasi di Dusun Bakung Desa Muara Merang dan Kelompok Hijau Bersemi berlokasi di Desa Kepayang Indah (Desa hasil Pemekaran Desa Muara Merang:2006).

Masing-masing kelompok menerima bantuan berupa sapi berjumlah 6 ekor untuk setiap kelompok, dan kelompok mempunyai beberapa kewajiban antara lain merawat, memelihara hingga memasarkan sapi-sapi tersebut untuk siap di jual.  Bantuan ini merupakan salah satu cara memberikan solusi alternatif kepada masyarakat yang umumnya menjadi anak kapak (penebang kayu upahan) menjadi petani atau peternak.

Sample ImageSample Image

Peternak sapi sedang menunjukkan kondisi sapi dan kandangnya kepada Implementator;   kondisi sapi setahun lalu  ;   Foto : Aprilino

Kedua kelompok pelaku usaha penggemukan sapi ini optimis jika akhir tahun 2007 ini sapi-sapi tersebut akan terjual dengan harga yang lebih tinggi, disamping karena kondisinya sudah lebih baik, sapi-sapi tersebut juga  terlihat  lebih sehat dan gemuk.

Namun disayangkan, sapi kelompok Hijau Bersemi kini hanya tersisa 4 ekor saja, karena yang 2 ekornya menurut penuturan kelompok mengalami sakit  pada musim penyakit sapi tahun lalu. Sehingga sapi tersebut di sembelih oleh kelompok dan dagingnya dibagi-bagikan kepada anggota kelompok dan masyarakat. Berbeda dengan kelompok Hijau  Bersemi, sapi Kelompok Hijau Lestari juga berkurang 1 ekor, namun bukan karena sakit melainkan dijual pada musim Hari raya Qurban tahun lalu. Dan hasil penjualan sapi tersebut, dimasukkan dalam kas kelompok dan keuntungannya ditambahkan kedalam modal kelompok bertanam cabe yang juga merupakan salah satu  unit usaha kelompok.

Pada kunjungan Implementator lapangan pertengahan September 2007 lalu, kondisi sapi-sapi kedua kelompok yang tersisa kelihatannya memang cukup baik dan sehat. Dan saat ini Implementator lapangan dan kelompok sudah mulai mencoba memasarkan sapi-sapi tersebut dengan memberikan penawaran-penawaran ke beberapa calon pembeli.

Kedua kelompok berharap, di tahun ini WBH akan kembali mengucurkan bantuan ke kelompok melalui proyek Wetland Poverty Reduction Project (WPRP) yang saat ini sedang berjalan melalui support dana dari pemerintah Belanda yang bekerjasama dengan Wetlands Internasional Indonesia Programme (WIIP).

Usaha Ternak Ayam Potong

Sample Image
Ayam-ayam yang masih tersisa pasca terjangkitanya penyakit tahun lalu. ; Foto : Aprilino

Berdasarkan pengalamannya mengelola usaha sendiri, menurut penuturan Bapak 3 anak yang berperawakan sedang, berkulit coklat dan berkumis ini,  usaha ternak ayam potong di Desa Muara Merang cukup potensial dan cukup berhasil. Untuk itu pada awal  tahun 2006 lalu, beliau mencoba membentuk kelompok dan mengajukan proposal usaha kelompok kepada WBH, yang saat itu sedang menjalankan proyek Climate Change Forest Peatland of Indonesia (CCFPI) yang didanai oleh CIDA, Canada.

Adalah Pak Sabana, mulanya dia menjalankan usaha ternak ayam potong secara kecil-kecilan dan individual dengan mencoba berternak beberapa puluh ekor ayam, namun karena keterbatasan modal akhirnya usahanya terhenti. dan seiring dengan adanya program kerja WBH dab WIIP di Dusun Bakung melalui Proyek CCFPI, Pak Sabana cukup tanggap dan mencoba mencari peluang untuk dapat mendapatkan bantuan modal usaha agar dapat melanjutkan usahanya yang sedang mengalami kekurangan modal. Akhirnya dengan penuh keyakinan dan rasa optimisme yang tinggi, Pak Sabana mencoba mengajukan proposal usaha ke WBH, tentu saja WBH sangat apresiasi dengan kemauan dan kegigihan Istri dari seorang Guru Honor di Sekolah Dasar Negeri Bakung ini, selanjutnya WBH memberikan penjelasan serta prosedur dalam mendapatkan bantuan modal melalui Implementator lapangan, Aprilino, bahwa untuk mendapatkan bantuan modal usaha tersebut syaratnya harus mempunyai kelompok atau membentuk kelompok kerja.

Tanpa menunggu lama, terbentuklah kelompok yang diketuai oleh Pak Sabana sendiri dan atas dampingan dari Implementator Lapangan WBH, usaha yang tadinya   sempat terhenti akhirnya usaha ternak ayam potongnya kembali berjalan, dengan jumlah ayam yang diternak lebih besar dari sebelumnya. Namun bedanya usaha yang dijalankannya bukan lagi usaha individual  namun sudah merupakan usaha kelompok.

Dalam kesehariannya, Pak Sabana dibantu oleh anggota kelompok dan istrinya. Namun sayangnya  ditengah perjalanan usahanya, saat musim penyakit ayam menyerang negeri ini, ternyata Pak Sabana juga turut terkena Imbasnya, ratusan ayam-ayamnya yang hampir panen mati.  Yang tersisa hanya beberapa ekor saja, dan meskipun sempat dijual tidak juga menutupi biaya dan tenaga  yang telah dikeluarkan.

Sample Image
Kandang ayam kelompok Keluarga Mandiri yang telah ditinggal ayamnya dan kinis siap dihuni oleh               ayam-ayam yang baru ;             Foto : Aprilino

Bukan hanya  Pak Sabana yang mengalami kerugian, Pak Sewinarno pun yang juga salah satu kelompok yang menjalankan usaha ternak ayam atas bantuan WBH melalui proyek WPRP, mengalami hal yang sama. Ratusan ayamnya mati, yang tersisa hanya kandangnya.

Kesedihan tergambar jelas dari suara mereka, saat mereka melaporkan kejadian tersebut ke kantor WBH melalui hubungan telepon.  Namun  ada baiknya juga saat pembelian bibit ayam, mereka tidak melakukan secara serentak, sehingga modal untuk membeli bibit berikutnya masih tersisa meskipun telah mengalami kerugian. Dan memang pada saat pemberian bantuan, masing-masing kelompok diberikan bantuan modal untuk 3 (tiga) kali produksi. Pak Sabana dan Anggotanya yang tergabung dalam kelompok Citra Usaha dan Pak Sewinarno dalam kelompok Keluarga Mandiri, saat kunjungan Implementator September 2007 lalu, mereka telah kembali bersemangat dan berjanji akan mengelola usahanya sebaik  mungkin jika WBH kembali mengucurkan bantuan modal untuk kelompok mereka tahun ini.

Dan menurut hasil verifikasi proposal yang telah mereka ajukan pada pertengahan Agustus 2007 lalu, kedua kelompok masih layak dan tetap akan menerima bantuan modal usaha.

Pada pertengahan Oktober lalu, Kelompok Keluarga Mandiri (Sewinarno) telah menerima bantuan modal untuk usaha ternak ayam. Namun menurutnya, tahun ini mereka akan berternak ayam petelur bukan ayam potong.

Sedangkan untuk Citra Usaha, masing-masing anggota akan menjalankan usaha yang berbeda yaitu, ternak ayam, tanam cabe dan kerajinan furniture berupa lemari ukir dan meja kursi dengan bahan baku utamanya dari kayu. Sebagai ketua kelompok, Pak Sabana tetap harus bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kesuksesan dari usaha masing-masing anggotanya, meskipun anggotanya menjalankan usaha yang berbeda.

Minggu keempat Oktober  2007  Kelompok Citra Usaha dipastikan telah menerima kucuran dana bantuan  untuk modal usaha yang telah mereka ajukan. Dengan modal tersebut diharapkan akan dapat membantu perekonomian keluarga serta dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Unit Usaha Kelompok Perempuan

Sample Image
Aktifitas Kelompok Perempuan mengerjakan kegiatan kelompok  secara bersama dirumah salah satu anggotanya   ;    Foto : Aprilino

Jika saja ada kontes keberhasilan dalam menjalankan usaha, maka usaha yang dijalankan oleh sekelompok Ibu-Ibu rumah tangga yang berada di Dusun Bakung Desa Muara Merang ini adalah  pemenangnya. Karena dari beberapa usaha yang dijalankan yang modalnya didapat melalui proyek CCFPI, Usaha Pembuatan Kemplang dan kerupuk Ikan cukup dibilang sukses dan berjalan sesuai harapan.

Walau tingkat pemasaran hasil produksinya baru ditingkat lokal dengan kata lain hanya mampu memenuhi permintaan di wilayah Desa Muara Merang, namun unit usaha kaum perempuan ini mampu bertahan ditengah persaingan produk-produk dari luar daerah yang masuk ke wilayah desanya.

Kelompok Perempuan Anggrek, Kelompok ini diketuai oleh Ibu Kartini. Dengan mengumpulkan ibu-ibu lainnya, Ibu Kartini membentuk kelompok dengan jenis usaha pembuatan kemplang dan Kerupuk Ikan. Umumnya kegiatan sehari-hari Ibu-ibu ini merupakan tenaga buruh harian lepas di sebuah perkebunan kelapa sawit swasta, PT. Pinang Witmas (PT. PWS). Karena buruh harian  lepas, mereka bisa leluasa melakukan aktifitas kegiatan kelompok. Dan mereka telah menetapkan jadwal dan pembagian kerja untuk anggota kelompok kapan harus memproduksi dan kapan memasarkan hasil produksi.

Aktifitas kelompok ini berjalan  sepanjang tahun 2006, dan mendapat kendala pada saat musim hujan tiba. Karena pada proses pembuatan kerupuk dan kemplang ikan ini salah satunya melalui proses pengeringan. Untuk itu sebelum dipasarkan, kemplang dan kerupuk tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, bisa dengan cara praktis dan mahal yaitu pengovenan atau dengan cara yang lebih mudah dan murah dengan menggunakan sinar matahari.  Keterbatasan modal membuat kelompok menggunakan cara yang lebih mudah dan murah yaitu dengan cara kedua, pemanfaatan sinar matahari.  sedangkan pada musim hujan,  intensitas keluarnya sinar matahari lebih sedikit dan tidak menentu, mengakibatkan usaha kelompok menjadi tersendat, dan bahkan berdasarkan pemantauan dan investigasi Implementator Lapangan hingga memasuki bulan Agustus 2007, kegiatan produksi sudah terhenti. dan sisa modal yang ada, sebagian dijadikan kelompok menjadi usaha simpan pinjam antar anggota dan penjualan voucher pulsa untuk telepon selular.

Sample Image
Aktifitas Pertemuan Kelompok Perempuan di Desa Kepayang Indah  ; Foto : Aprilino

Berbeda dengan Kelompok Anggrek, Kelompok Kenanga yang diketuai oleh Ibu Kartina, seorang Guru Bantu yang telah mengabdi selama kurang lebih 25 tahun, yang berdomisili di Desa Kepayang Indah pada tahun lalu kegiatan kelompoknya tidak berjalan sama sekali. Namun bukan karena ibu-ibu yang ada di Desa Kepayang Indah ini tidak mau bekerja atau tidak produktif, melainkan karena pada akhir Oktober 2006 silam, Desa kepayang Indah Mengalami Musibah Kebakaran yang cukup hebat. Banyak rumah penduduk terbakar termasuk rumah-rumah anggota kelompok dan tidak terkecuali rumah ketua kelompok, Ibu Kartina.

Praktis kegiatan kelompok terhenti tanpa dikomando, karena masyarakat lebih konsentrasi  kepada pembangunan kembali tempat tinggal mereka. Namun kegiatan pendampingan dan konsolidasi kelompok oleh implementator tetap dilanjutkan untuk mengetahui perkembangan dan situasi kelompok.

Kelompok Kenanga berencana akan membuka usaha kelompok dengan membuat keripik pisang dan singkong. Menurut kelompok, bahan baku untuk keripik pisang dan singkong ini tidak harus membeli diluar namun bisa menampung hasil tanaman dari beberapa masyarakat Desa Kepayang Indah atau desa sekitar yang beberapanya sudah mulai berpindah dari anak kapak (pembalak) menjadi petani.

Hingga dikegiatan pertemuan kelompok September 2007, kelompok Kenanga menyatakan telah siap menjalankan usaha kelompok dan berharap WBH dapat memberikan bantuan modal usaha untuk kelompok.  Begitu juga dengan kelompok Anggrek, kelompok menyatakan siap menerima bantuan dan menjalankan usaha kelompok kembali.

Hasil verifikasi proposal usaha kelompok yang telah diterima WBH, kedua kelompok Perempuan ini  layak diberikan bantuan modal usaha kembali melalui proyek WPRP yang sekarang sedang berjalan di kedua desa tersebut.

Usaha Tanam Semangka Manis, Cabe dan Sayuran

Sample Image

Buah semangka pilihan yang siap panen;   Foto : Aprilino

Pak Mutamainah atau yang lebih dikenal dengan Pak Tama’in adalah salah satu anggota sekaligus orang yang memprakarsai terbentuknya Kelompok Usaha Maju. Dari sejak terbentuknya, terlihat antusiasme anggota untuk menjalanka usaha secara bersama, dari kegiatan kelompok berupa manajemen kelompok hingga pencatatan-pencatatan kebutuhan dan perlengkapan kelompok secara detail.

Usia yang tidak bisa dikatakan muda lagi, tidak menjadi hambatan bagi sosok Pak Tama’in (54 th) untuk terus berkarya dan berusaha. Bapak yang dikenal selalu tersenyum ramah dan berkulit coklat namun masih mempunyai postur tubuh yang  tegap dan kuat ini menyatakan akan tetap berusaha selagi hayat masih dikandung badan. Dan salah satu usahanya yang telah mampu memenuhi kebutuhan hidup bersama istri dan anak cucunya di  pondok yang sekaligus merupakan tempat tinggalnya adalah usaha tanam semangka, selain tanaman jeruknya yang sudah beberapakali panen.

Tanaman semangka yang terhampar di lahannya yang seluas 1 hektar tersebut dikelola bersama anak cucu dan saudara-saudaranya telah mampu membuat asap dapur nya kembali mengepul dan memenuhi kebutuhan keseharian lainnya. Hasil panen semangkanya tidak hanya dipasarkan di wilayah Bayung Lincir, namun juga pernah dijual hingga ke Jambi. Kerja kerasnya tidak sia-sia dan masing-masing anggota telah mengecap manisnya hasil jerih payah dari keringat  yang mereka kucurkan setiap harinya. Selain itu tanaman jeruk yang ditanam beberapa tahun sebelumnya yang juga didapat dari bantuan modal usaha kelompok melalui poyek CCFPI 2002, juga telah mulai panen dan tentu saja ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pak Tama’in dengan hasil tani yang dicapainya.

Saat ini usaha tanam semangkanya sedang terhenti, karena kesibukannya di beberapa kegiatan masyarakat. Selain dikenal dengan keramahannya, Bapak satu ini juga masih sering aktif dan turut serta di setiap organisasi masyarakat. Dan kegiatan-kegiatan ini lebih banyak menyita waktunya sehingga kegiatan bertaninya terpecah dan tidak fokus. Hingga  pertemuan kelompok September lalu, Kelompok  Usaha Maju masih belum bisa menentukan apakah akan terus melanjutkan usaha secara berkelompok (berkelompok: red) atau menjalankan usaha sendiri.

Dalam hal ini, WBH selaku lembaga pendamping hanya dapat mensupport dan memberikan masukan-masukan yang bisa diterima oleh kelompok. Pada dasarnya WBH tetap mendukung eksistensi kelompok usaha maju,  apapun bentuk usaha yang mereka jalankan  selagi masih tetap berpegang pada visi dan misi yang telah dicanangkan. Yaitu salah satunya kegiatan tidak bersifat merusak lingkungan dan ekosistem hutan. Kegiatan ekonomi masyarakat Desa Muara Merang, yang saat ini tidak sepenuhnya lagi tergantung dengan hasil penebangan kayu di hutan (penebang liar)  merupakan suatu kemajuan bagi lembaga WBH. Pola pikir masyarakat yang mulai berubah untuk   mendapatkan hasil secara instan sedikit demi sedikit mulai berkurang disamping mereka  telah dengan sadar mengakui bahwa kayu dihutan sudah mulai habis dan tidak ada lagi yang bisa dijual dari hutan, kegiatan bertani atau berternak lebih menjanjikan masa depan daripada menjadi penebang kayu.

Sample Image

Salah satu usaha tanaman sayuran  ;      Foto : Aprilino

Selain bertanam Semangka,  kelompok juga mengembangkan  usaha tanam cabe dan sayuran.  Menurut mereka, menanam  sayuran jika tidak dapat dijual, maka  sayuran dapat dimakan,  minimal untuk sayuran hijau tidak     perlu lagi membeli ke pasar. Cukup berjalan ke kebun dan memetik hasilnya. Sayuran yang ditanam seperti kacang-kacangan, ubi kayu dan terong-terongan.

Sama halnya dengan kelompok Usaha Maju,  Kelompok Hijau Lestari selain dari melakukan usaha penggemukan sapi, juga bertanam cabe dan sayuran. Tanaman cabe dan sayurannya terhampar dilahan seluas 2 ha, diatas lahan tersebut dibagi menjadi beberapa bagian sebagian untuk cabe, sebagian untuk sayuran hijau. Pada musim panen beberapa bulan lalu, Kelompok Hijau Lestari telah menjual hasil kebunnya berupa kacang panjang, timun, terong dan cabe. Meskipun tidak dalam jumlah besar, namun cukup membantu berjalannya roda perekonomian masing-masing anggota. Sayangnya kegiatan ini tidak bertahan lama, diantara anggota terdapat beberapa orang yang tidak mau turut mengelola namun ingin  turut menikmati hasilnya. Tentu saja ini menimbulkan kekurangnyaman bagi anggota yang benar-benar bekerja dan melakukan pengelolaan usaha. Awal tahun 2007, ketua kelompok melakukan pembenahan  manajemen kelompok, dan anggota yang tidak produktif tidak diikutsertakan lagi dalam kegiatan kelompok, dan diganti dengan anggota yang baru. Ketua kelompok mulai membagi tugas dan peran masing-masing anggotanya.  cuaca yang tidak menentu menyebabkan beberapa tanaman menjadi tidak  lagi menghasilkan. Namun meskipun begitu lahannya tetap ditanami dan dijaga kebersihannya hingga musim tanam berikutnya tiba.

Sample ImageSample ImageSample Image
Hasil  kegiatan pertanian masyarakat Muara Merang
;  Foto : Aprilino

One response to “Pendampingan Usaha Kelompok Masyarakat di Desa Muara

  1. Pingback: UKM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s