ISLAM ITU MISKIN…?

NIO GWAN CHUNG ingat benar. Puluhan tahun silam, di rumah keluarganya di Sukabumi, Jawa Barat, ayahnyalah yang memulai percakapan.
”Nio, kamu boleh masuk agama apa saja. Konghucu atau Kristen, silakan. Buddha, silakan. Bahkan, kalau kamu anggap ateis itu baik, juga silakan!”
Nio terdiam.
”Hanya satu pesanku,” ujar sang ayah, serius. ”Jangan masuk Islam!”
”Kenapa?”
”Orang Islam itu miskin-miskin. Sandal di musala pun dicuri.”
Nio terperangah….!

Belakangan, Nio Gwan Chung justru menjadi seorang ulama. Kita lantas mengenalnya sebagai Syafei Antonio, pakar ekonomi syariah. Setelah memeluk Islam, Syafei memang tak menjadi orang kaya raya. Tapi, kehidupannya tentu tak membuat sang ayah harus gelisah. Kini, Syafei selalu menegaskan, orang Islam bisa hidup kaya. Ada ilmunya untuk itu. Di bulan Ramadan seperti sekarang, Syafei sering terlihat di TV.
Lalu, salahkah pandangan bahwa Islam identik dengan kemiskinan? Tidak juga. Faktanya, sejumlah negara berpenduduk Islam, seperti Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara Afrika Utara, memang masih hidup pas-pasan. Ekonom Philip M. Parker pernah menulis, orang Yahudi-lah yang hidupnya paling makmur. Penghasilan per kapita mereka, rata-rata, US$ 16.100 per tahun. Orang Kristen US$ 8.230, Buddha US$ 6.740, dan Islam hanya US$ 1.720.
Padahal, jumlah penganut Yahudi hanya sedikit. Majalah Time, Maret 2003 silam, menurunkan laporan tentang jumlah pemeluk agama-agama besar di dunia. Orang Kristen (dan Katolik) adalah yang terbanyak, sekitar 2 miliar orang. Adapun Islam sekitar 1,3 miliar, Hindu 900 juta, Buddha 360 juta, dan Yahudi 14 juta orang.
Mengapa orang Islam miskin? Qodry Azizi, ustaz yang juga menjabat Sekretaris Kementerian Koordinator Kesra RI, menduga, ada sebagian umat Islam yang menilai kemiskinan adalah takdir. Miskin berarti menjadi kekasih Allah. Sejatinya, ujar Qodry, tak satu ayat pun di Al Quran yang menganjurkan umat hidup miskin. Al Quran justru memerintahkan umat Islam memakmurkan bumi agar mereka tak lantas kapiran.
Ajaran Islam memang mengandung etos yang menghargai kerja keras untuk mencapai kesejahteraan ekonomi. Peter L. Bernstein, seorang sosiolog, menyatakan, etos bisnis Islam bahkan lebih kuat dari ajaran mana pun—termasuk etika Protestan yang menjadi spirit kapitalisme di Eropa Barat, seperti yang ditulis Max Weber.
Persoalannya, sejarah telah membuat orang-orang Islam terpukul. Islam pernah kalah perang. Setelah itu, penguasaan ilmu dan teknologi yang sempat dimiliki umat Islam, hingga masa Andalusia, direbut Barat. Itu juga yang membuat sebagian umat lalu bersikap fatalistis. Etos bisnis tadi hanya menjadi jargon. Mereka hidup di negara-negara terjajah, baik secara fisik atau ekonomi. Negara yang mereka huni tak membuka kesempatan untuk mengembangkan diri.
Makanya, jarang muncul nama pengusaha muslim yang bisa berbicara di level dunia. Ada, memang, sebagian umat Islam yang makmur, yang hidup di negeri yang tak terlalu besar, tapi kaya minyak. Dari negeri-negeri itu, mencuatlah nama Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz al-Saud, orang terkaya ke-20 di dunia, versi majalah Forbes. Atau, Abdul Aziz Al Ghurair yang menempati urutan ke-87.
Raja Abdullah dari Arab Saudi juga amat kaya. Menurut Forbes, sepupu dari Al-Walid bin Talal itu diduga memiliki kekayaan US$ 20 miliar. Di atasnya, ada Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam, yang punya harta US$ 22 miliar.

MINYAK, IT, DAN SYARIAH
Hingga beberapa tahun ke belakang, ”peta kemakmuran” orang-orang Islam masih seperti itu. Untunglah, dunia terus berputar. Negara komunis Uni Soviet runtuh awal 1990-an. Dari puing-puingnya, bangkit lagi negeri Rusia yang punya warga muslim lumayan banyak. Selama satu dekade, Rusia mengalami masa transisi berdarah.
Setelah itu, negeri ini bangkit. Kekayaan minyak dan gas menjadi andalan. Produksi minyak mentah Rusia diduga mencapai 12 juta barel per hari. Para pengusaha swasta lalu menjadi motor penggerak ekonomi Rusia. IMF menduga, hingga akhir 2007, pertumbuhan ekonomi Rusia akan mencapai 7%.
Lalu, dari sana muncul beberapa nama pebisnis, termasuk Suleiman Kerimov dan Iskander Makhmudov yang muslim. Kerimov kabarnya memiliki kekayaan hingga US$ 14 miliar dan Makhmudov sekitar US$ 8 miliar. Naiknya harga minyak dalam beberapa waktu terakhir ini, hingga menembus US$ 80 per barel, jelas bisa membuat pundi-pundi Kerimov dan Makhmudov semakin tebal saja.
Di saat yang bersamaan, teknologi informasi (TI) berkembang menjadi sebuah bentuk ekonomi baru. Di bidang ini, India rupanya sudah menyiapkan diri untuk menjadi pemain terkemuka di dunia. Hasilnya oke. Kini, anak-anak muda India bekerja di kompleks perkantoran modern di Bangalore. Mereka merancang software untuk berbagai perusahaan di Amerika dan Eropa.
Mereka juga bekerja di segmen business process outsourcing (BPO) yang sedang meledak, menangani akuntansi, memproses klaim kesehatan, layanan pelanggan, dan fungsi-fungsi bisnis dasar lainnya untuk para klien Barat. India menguasai lebih dari 55% outsourcing untuk teknologi informasi (TI) dunia dengan nilai mencapai antara US$ 30 hingga US$ 40 miliar setiap tahunnya.
India adalah negara dengan semiliar penduduk—yang nyaris 20%-nya muslim. Nah, si muslim Azim Premji adalah salah satu pengusaha yang ikut menikmati majunya bidang TI di India tadi. Harta Premji kini mencapai US$ 17 miliar. Melalui bendera Wipro, Premji memperoleh order dari perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Sun Microsystems, GE, atau Motorola. Tahun lalu Wipro mengantongi pendapatan hingga US$ 3,47 miliar dengan keuntungan bersih sebesar US$ 677 juta.
India adalah negeri yang cukup berhasil dalam pendidikannya. Sumber daya manusia di sana sangat kuat. Makanya, para pengusaha—termasuk yang muslim—berpeluang menerapkan etos bisnisnya secara optimal.
Keberhasilan di sektor pendidikan itu juga yang membuat Malaysia terlihat menonjol. Kendati, di negara itu, bisnis yang banyak digeluti masih bersifat konvensional. Di Malaysia, pengusaha muslim terkaya adalah Syed Mokhtar Al Bukhary—yang ditaksir memiliki kekayaan US$ 2 miliar.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ada nama Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro—pengusaha muslim yang punya harta di atas US$ 1 miliar—yang juga berasal dari bisnis minyak atau sumber daya alam lainnya. Lalu, ada juga Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung. Tapi, ujar Syafei Antonio, Indonesia masih perlu bekerja lebih keras untuk menjadikan rakyatnya yang mayoritas Islam ini (sekitar 200 jutaan) menjadi kaya.
Syafei yakin, jika ada banyak pengusaha muslim dari pelbagai negara mampu menjadi macan dunia, maka sistem ekonomi global juga bisa ikut bergeser. Syafei menilai, sistem syariah akan memiliki tempat lebih baik nantinya. Para taipan muslim itu tentu akan lebih terbuka menerima sistem syariah. Apalagi, sejumlah negara barat—termasuk Amerika, Inggris, dan Kanada—juga sudah memberi ruang bagi pengembangan ekonomi syariah.
Zacky Khairul Umam, peneliti Pusat Studi Arab Universitas Indonesia, punya keyakinan serupa. Menurut Zacky, harga minyak dunia yang terus naik juga bakal mendorong pengaruh ekonomi syariah yang berbasis pada kekuatan nilai uang emas dan perak, yang tak pernah bergejolak. Ditambah lagi, kondisi ekonomi Amerika Serikat—jantung ekonomi kapitalisme—di bawah pemerintahan George H.W. Bush, kini terseok-seok. Defisit Amerika saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah.
Mungkin, ini memang sudah waktunya untuk membuktikan bahwa etos dan orang-orang Islam juga mampu bersaing di level dunia. Orang Islam juga bisa kaya. Harus, malah.

One response to “ISLAM ITU MISKIN…?

  1. kita ada program little madinah yang insya Allah bermanfaat untuk mengoptimalkan perekonomian jamaah islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s