Anak Gunung Krakatau Meletus

Setelah Gunung Merapi meletus, giliran Gunung Anak Krakatau (GAK) pula. Letusannya sebanyak 117 kali. Suaranya terdengar hingga Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

“Aktivitas GAK sudah mulai mengeluarkan letusan sejak tanggal 27 Oktober atau dua hari yang lalu,” kata pengamat di Pos Pemantau GAK di Cinangka, Kabupatem Serang, Sikin, Jumat (29/10).

Dijelaskas, aktivitas GAK saat ini statusnya masih waspada sehingga nelayan masih bisa melakukan kegiatannya.

“Yang terpenting jangan terlalu dekat, paling dekat di radius 4 kilometer dari GAK,” katanya menambahkan.

Data yang ada di Pos Pemantau katanya, sepanjang tanggal 28 Oktober lalu, selain mengalami letusan sebanyak 117 kali, embusan 56 kali, tremor atau gerakan 102 kali, dan sinar api terlihat dua kali dengan warna putih kelabu menggumpal, vulkanik dangkal 61 dan vulkanik dalam 12.

“Kondisi kemarin saya ke lokasi, banyak material seperti batu berjatuhan sampai ke laut dari gunung,” katanya menambahkan.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meningkat dalam sepekan terakhir ini. GAK kini dalam status waspada dan tidak boleh didekati dalam radius 3 kilometer.

Dihubungi pada Jumat (29/10), Wawan Setianto, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah Krakatau, mengungkapkan, beberapa hari terakhir ini di GAK terjadi peningkatan aktivitas gempa vulkanik.

“Dari biasanya hanya di bawah dua puluh kali per hari, kini gempa vulkanik menjadi tiga puluh lima kali per hari. Abu vulkanik juga terlihat lebih tinggi, hingga satu kilometer,” ujarnya.

GAK yang kini telah berstatus Waspada dilarang untuk didekati, setidaknya dalam radius 2 kilometer. Baik nelayan maupun pengunjung diimbau berhati-hati saat mendekati areal Pulau GAK.

Aktivitas pengamatan GAK pun kini lebih banyak dilakukan di Pulau Sertung dan Panjang.

Akibat letusan yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau (GAK), ratusan nelayan yang berada di Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, tidak melaut. Mereka khawatir material yang dikeluarkan akan membahayakan mereka.

“Saya sudah tiga hari ini tidak berani turun ke laut, khawatir akan terkena batu material yang berjatuhan dari Gunung Anak Krakatau,” kata nelayan Desa Pasauruan, Cinangka, Sarbini, Jumat (29/10).

Cuaca Buruk Mentawai Hingga Senin (2/11) mendatang perairan di sekitar Kepulauan Mentawai masih terancam gelombang tinggi dan cuaca buruk berupa hujan deras dan angin kencang.

BMKG memprediksi cuaca buruk ini bakal berlangsung hingga tiga hari ke depan. Tinggi gelombang bahkan diperkirakan bisa mencapai tiga hingga enam meter. Untuk itu, perahu-perahu kecil yang digunakan menyalurkan bantuan bagi korban gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai disarankan berhati-hati dan tak berlayar pada sore atau pun malam hari.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Teluk Bayur Amarizal mengatakan, saat ini kawasan Pantai Barat Sumbar tekanan udaranya rendah, sehingga angin bertiup ke arah pesisir Barat Sumbar.

“Kalau badai boleh dikatakan tidak ada karena badai biasanya di atas 50 Kilometer perjam kecepatan anginnya. Tetapi perahu-perahu kecil memang disarankan untuk berhati-hati,” ujar Amarizal.

Manajer BPPD Sumbar Ade Edward menuturkan, distribusi bantuan terhenti karena perahu-perahu kecil yang mengangkut bantuan dari Sikakap menuju ke lokasi bencana tak berani melaut akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Korban Bertambah Korban tewas akibat terjangan tsunami Mentawai, Sumatera Barat, bertambah empat orang. Hingga Jumat (29/10) pukul 15.30, jumlah korban tewas bertambah empat orang menjadi 412 orang.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar menunjukkan, korban luka berat sebanyak 267 orang dan luka ringan 142 orang.

“Jumlah warga yang hilang mencapai 300 orang,” kata Ade Edward, Manajer Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdal Ops PB) Sumbar.

Gelombang tsunami yang mencapai 12 meter tersebut juga telah meluluh lantakkan sejumlah desa. Rumah warga yang rusak berat tercatat sebanyak 442 unit dan rusak ringan 200 unit. Rumah ibadah 6 unit, sekolah 5 unit, rumah dinas 6 unit, jembatan 5 unit, resot 2 unit, serta kapal 1 unit terbakar. (Ant/kompas.com/tribunnews.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s