>Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

>


MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN
NOMOR : SK.398/Menhut-II/2004
TENTANG
PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PADA KELOMPOK HUTAN BANTIMURUNG – BULUSARAUNG SELUAS ± 43.750 (EMPAT PULUH TIGA RIBU TUJUH RATUS LIMA PULUH) HEKTAR TERDIRI DARI CAGAR ALAM SELUAS ± 10.282,65 (SEPULUH RIBU DUA RATUS DELAPAN PULUH DUA ENAM PULUH LIMA PERSERATUS) HEKTAR, TAMAN WISATA ALAM SELUAS ± 1.624,25 (SERIBU ENAM RATUS DUA PULUH EMPAT DUA PULUH LIMA PERSERATUS) HEKTAR, HUTAN LINDUNG SELUAS ± 21. 343,10 (DUA PULUH SATU RIBU TIGA RATUS EMPAT PULUH TIGA SEPULUH PERSERATUS) HEKTAR, HUTAN PRODUKSI TERBATAS SELUAS ± 145 (SERATUS EMPAT PULUH LIMA) HEKTAR, DAN HUTAN PRODUKSI TETAP SELUAS ± 10.355 (SEPULUH RIBU TIGA RATUS LIMA PULUH LIMA) HEKTAR TERLETAK DI KABUPATEN MAROS DAN PANGKEP, PROVINSI SULAWESI SELATAN MENJADI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG – BULUSARAUNG
MENTERI KEHUTANAN,
Menimbang
:
a.
bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 890/Kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999 telah ditunjuk areal hutan di Provinsi Sulawesi Selatan seluas ± 3.879.771 (tiga juta delapan ratus tujuh puluh sembilan ribu tujuh ratus tujuh puluh satu) hektar sebagai kawasan hutan diantaranya Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, dan Hutan Produksi Tetap pada Kelompok Hutan Bantimurung – Bulusaraung di Kabupaten Maros dan Pangkep;
b.
bahwa kawasan hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung – Bulusaraung seluas ± 43.750 (empat puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh) hektar tersebut butir a merupakan ekosistem karst yang memiliki potensi sumberdaya alam hayati dengan keanekaragaman yang tinggi serta keunikan dan kekhasan gejala alam dengan fenomena alam yang indah;
c.
bahwa ekosistem karst Maros – Pangkep tersebut butir b memiliki berbagai jenis flora, antara lain : Bintangur (Calophyllum sp.), Beringin (Ficus sp.), Nyato (Palaquium obtusifolium), dan flora endemik Sulawesi Kayu hitam (Diospyros celebica), berbagai jenis satwa liar yang khas dan endemik diantaranya Kera hitam (Macaca maura), Kuskus sulawesi (Phalanger celebencis), Musang sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki), Rusa (Cervus timorensis), burung Enggang hitam (Halsion cloris), Raja udang (Halsion cloris), Kupu-kupu (Papilio blumei, Papilio satapses, Troides halipton, Troides helena), berbagai jenis amfibia dan reptilia seperti Ular phyton (Phyton reticulates), Ular daun, Biawak besar (Paranus sp.), Kadal terbang, dan lainnya;
d.
bahwa ekosistem karst Maros – Pangkep tersebut butir b selain memiliki lansekap karst yang unik, gua-gua dengan ornamen stalaktit dan stalakmit, gua-gua yang bernilai historis/situs purbakala, panorama alam yang indah, air terjun, yang dapat dikembangkan sebagai laboratorium alam untuk ilmu pengetahuan dan pendidikan konservasi alam serta kepentingan ekowisata, juga merupakan daerah tangkapan air bagi kawasan di bawahnya dan beberapa sungai penting di Provinsi Sulawesi Selatan seperti S. Walanea, S. Pangkep, S. Pute, dan S. Bantimurung;
e.
bahwa dalam rangka perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistem tersebut di atas, maka berdasarkan Berita Acara Hasil Pengkajian dan Pembahasan Tim Terpadu tanggal 8 Oktober 2004, kawasan hutan di Kelompok Hutan Bantimurung – Bulusaraung seluas ± 43.750 ha (empat puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh) hektar memenuhi syarat untuk diubah fungsi menjadi Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Nasional;
f.
bahwa berhubung dengan itu, untuk menjamin perlindungan, kelestarian dan pemanfaatan potensi kawasan hutan tersebut, sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam maka dipandang perlu untuk mengubah fungsi kawasan hutan di Kelompok Bantimurung – Bulusaraung seluas ± 43.750 (empat puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh) hektar terdiri dari Cagar Alam seluas ± 10.282,65 (sepuluh ribu dua ratus delapan puluh dua enam puluh lima perseratus) hektar, Taman Wisata Alam seluas ± 1.624,25 (seribu enam ratus dua puluh empat dua puluh lima perseratus) hektar, Hutan Lindung seluas ± 21.343,10 (dua puluh satu ribu tiga ratus empat puluh tiga sepuluh perseratus) hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas ± 145 (seratus empat puluh lima) hektar, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.355 (sepuluh ribu tiga ratus lima puluh lima) hektar terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Nasional, dengan Keputusan Menteri Kehutanan.
Mengingat
:
1.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990;
2.
Undang-undang Nomor 24 tahun 1992;
3.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997;
4.
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999;
5
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998;
6.
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000;
7.
Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002;
8
Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001;
9.
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 890/Kpts-II/1999;
10.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 123/Kpts-II/2001;
11. Keputusan Menteri kehutanan Nomor 1615/Kpts-VII/2001 jo Nomor 8637/Kpts-II/2002.
12.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 70/Kpts-II/2001 jo Nomor SK.48/Menhut-II/2004;
Memperhatikan
:
1.
Surat Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 660/27/Set tanggal 5 Januari 2004, dan rekomendasi Nomor 660/472/SET tanggal 7 Pebruari 2003.
2. Rekomendasi Bupati Maros Nomor 660.1/532/Set tanggal 13 Nopember 2002.
3. Surat Bupati Pangkep Nomor 430/13/DLHK tanggal 15 Maret 2003.
4. Keputusan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 27 tahun 2003 tanggal 19 Desember 2003.
5. Rekomendasi DPRD Kabupaten Maros Nomor 660.1/347/DPRD/2002 tanggal 17 Desember 2002.
6. Surat Ketua DPRD Kabupaten Pangkep Nomor 005/194/Sek-DPRD tanggal 30 Juli 2003.
M E M U T U S K A N :
Menetapkan
:
PERTAMA
:
Mengubah fungsi kawasan hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung – Balusaraung seluas ± 43.750 (empat puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh) hektar terdiri dari Cagar Alam seluas ± 10.282,65 (sepuluh ribu dua ratus delapan puluh dua enam puluh lima perseratus) hektar, Taman Wisata Alam seluas ± 1.624,25 (seribu enam ratus dua puluh empat dua puluh lima perseratus) hektar, Hutan Lindung seluas ± 21.343,10 (dua puluh satu ribu tiga ratus empat puluh tiga sepuluh perseratus) hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas ± 145 (seratus empat puluh lima) hektar, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.355 (sepuluh ribu tiga ratus lima puluh lima) hektar terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung.
KEDUA
:
Batas sementara Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung tersebut diktum PERTAMA, adalah sebagaimana terlukis pada peta lampiran keputusan ini, sedangkan batas tetapnya akan ditentukan setelah diadakan penataan batas di lapangan.
KETIGA
:
Memerintahkan kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam untuk melakukan pengelolaan atas Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung.
KEEMPAT
:
Memerintahkan kepada Kepala Badan Planologi Kehutanan untuk mengatur pelaksanaan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini.
KELIMA
:
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : J A K A R T A     
Pada tanggal : 18 Oktober 2004 
MENTERI KEHUTANAN,
ttd.             
MUHAMMAD PRAKOSA
Salinan, Keputusan ini disampaikan kepada Yth. :
1.   Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
2.   Menteri Negara Lingkungan Hidup.
3.   Menteri Dalam Negeri.
4.   Menteri Pertanian.
5.   Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah.
6.   Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
7.   Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
8.   Pejabat Eselon I lingkup Departemen Kehutanan.
9.   Gubernur Sulawesi Selatan.
10. Bupati Maros.
11. Bupati Pangkep.
12. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan.
13. Kepala Bapedalda Provinsi Sulawesi Selatan.
14. Asisten Deputi Urusan Sulawesi, Maluku, dan Papua.
15. Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV.
16. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros.
17. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pangkep.
18. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan I.
19. Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VII Makassar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s