>TN Kelimutu

>

Identifikasi Persebaran Populasi Babi Hutan (Sus scrofa) Dalam Kawasan TN Kelimutu dan Sekitanya,
Tahun 2010
A.    Latar Belakang
Babi hutan (Sus scrofa) atau celeng adalah babi liar yang menurunkan babi ternak (Sus domesticus) dan termasuk familia Suidae. Menurut Singer et al, Russo, Massei & Genov, dalam Leaper R. et al. (1999) mengemukakan bahwa babi hutan (Sus scrofa) merupakan binatang malam (nocturnal). Aktivitas harian babi hutan sebagian besar digunakan untuk mencari makan yaitu 67,5% dari seluruh aktivitas harian, dan umumnya pencarian makan dilakukan pada malam hari dan mulai aktif merusak tanaman saat tengah malam sampai menjelang subuh. Daya jelajah (home range) babi hutan (Sus scrofa) dalam beberapa riset yang telah dilakukan menunjukkan sangat beragam. Perkiraan home range tahunan menurut Saunders & Kay dalam Leaper, R. et al. (1999) mempunyai kisaran 4,0 hingga 21,8 km2, sedangkan menurut Massei et al. dalam Leaper, R. et al. (1999) diantara 4,6 dan 16,4 km2 atau menurut Jullien et al. dalam Leaper, R. et al (1999) rata-rata home range tahunan adalah 26 km2. Jenis makanan yang disukai babi hutan di lahan pertanian terutama adalah terong, cabai, jagung, singkong, padi, jambu, cacing tanah, serangga dan ikan.
Daerah penyebaran Babi hutan adalah di hutan-hutan Eropa Tengah, Mediterania (termasuk Pegunungan Atlas di Afrika Tengah) dan sebagian besar Asia hingga paling Selatan di Indonesia. Persebaran babi hutan di seluruh wilayah Asia Tenggara, dengan spesifikasi ukuran tubuh babi hutan di wilayah Peninsular Malaysia, Singapura dan Indonesia bagian Barat cenderung lebih kecil dibanding tempat lain (D.L., Yong. 2010). Taman Nasional Kelimutu merupakan salah satu habitat alami babi hutan (Sus scrofa) di Pulau Flores. Penduduk sekitar kawasan mengganggap babi hutan (Sus scrofa) sebagai hama tanaman pertanian mereka, selain monyet, landak dan tikus besar atau dheke.
Keberadaan babi hutan yang di satu sisi menjadi hama bagi masyarakat sekitar kawasan karena masuk di lahan-lahan pertanian, namun di sisi lain babi hutan juga sebagai salah satu keanekaragaman hayati yang harus dilindungi. Untuk itu diperlukan suatu cara agar keberadaan babi hutan tetap dapat lestari namun tanaman pertanian penduduk terselamatkan. Untuk memanajemen hal ini diperlukan informasi awal mengenai persebaran babi hutan di dalam dan sekitar kawasan TN. Kelimutu.
B.    Maksud dan Tujuan
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui persebaran babi hutan (Sus scrofa) di dalam dan sekitar kawasan TN. Kelimutu sebagai informasi awal untuk pengelolaan habitat dan populasi dari satwa liar dimaksud. Informasi ini sebagai dasar bagi pengelola kawasan TN. Kelimutu dalam bertindak dan mengambil kebijakan perlindungan, pengawetan dan pelestarian satwa liar yang ada di dalam kawasan maupun yang berinteraksi keluar kawasan TN Kelimutu.
C.    Metode Penelitian
Penelitian tentang persebaran babi hutan (Sus scrofa) di kawasan TN Kelimutu dan sekitarnya dilakukan di Bulan Oktober 2010. Penelitian dilakukan di dalam kawasan TN. Kelimutu dan desa-desa sekitar kawasan. Dengan peralatan yang dibutuhkan diantaranya: Peta Kerja TN. Kelimutu 1: 25.000, Senter, GPS, Alat tulis, Jas hujan/ mantel.
Penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengumpulkan informasi dari masyarakat dan petugas taman nasional mengenai persebaran babi hutan baik di kawasan atau desa-desa sekitar kawasan. Berdasarkan informasi yang didapat, daerah-daerah persebaran ini diplotkan ke dalam peta kerja taman nasional. Selanjutnya dilakukan survey yang dilakukan oleh anggota tim bersama-sama dengan masyarakat sekitar kawasan, pengamatan dilakukan baik siang maupun malam hari. Pengamatan malam hari dilakukan karena babi hutan merupakan binatang nocturnal. Ditemukannya babi hutan, baik jejak, kubangan atau lainnya yang berhubungan dengan babi hutan dicari koordinatnya dengan GPS, dicatat di tally sheet termasuk flora fauna yang ada atau ditemukan dan keadaan umum daerah setempat.
Analisa data survey distribusi menggunakan software pemetaan untuk memasukan titik-titik gps perjumpaan/ bekas/ jejak babi hutan dalam peta kerja taman nasional. Berdasarkan analisa yang dilakukan akan didapatkan sebuah peta persebaran babi hutan (Sus scrofa) didalam kawasan dan sekitar kawasan TN Kelimutu. Besarnya total populasi dihitung berdasarkan frekuensi jumlah individu ditiap-tiap lokasi pengamatan, dengan memperhatikan jarak antara range tempat/ plot pengamatan. Jarak antar lokasi/ plot pengamatan diantara 1 – 5 km (Shrestha, Mahendra Kumar. 2004). Menurut Habeisen C., et al. (2007) untuk menghindari (overlaping) perhitungan jumlah individu tercatat ulang (reaccounting) perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Waktu pelaksanaan pengamatan
  2. Ciri fisik (morfologi) babi hutan (apabila dijumpai binatang targetnya)
  3. Memperkirakan jumlah individu dalam satu group
  4. Komposisi kelompok (sex rasio, jumlah juvenile/ anak dan mature/ dewasa)
Menurut Sweitzer et al. dalam Shrestha, M. K. (2004) kerapatan populasi babi hutan dapat dihitung dengan menggunakan jumlah total populasi dibandingkan dengan luasan habitat/ tempat tumbuh. Untuk menetapkan luasan area dengan menggunakan perkiraan luas lingkaran di sekitar plot pengamatan, dengan luasan plot pengamatan ± 1 km2.
D.    Hasil Pengamatan Dan Pembahasan
Pelaksanaan identifikasi dengan menggunakan metode survey dengan lokasi ditentukan berdasarkan informasi dari masyarakat/ penduduk yang berada disekitar kawasan TN Kelimutu serta penentuan titik koordinat berdasarkan peta kawasan. Berdasarkan jumlah populasi total yang didapat, maka kerapatan babi hutan di dalam kawasan TN Kelimutu 3,57 individu/ km2 atau 4 individu (dibulatkan) babi hutan ditemukan per km2 luasan kawasan TN Kelimutu.
Keterbatasan literatur penelitian/ riset tentang babi hutan di Indonesia masih sangat minim, sehingga informasi terkait kerapatan/ populasi ideal untuk tiap luasan di wilayah kawasan hutan di Indonesia belum bisa di dapatkan. Akan tetapi dalam penelitian-penelitian di beberapa negara dididapatkan referensi mengenai jumlah populasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Leaper R. et al. (1999) di Skotlandia populasi yang mendiami tiap km persegi luasan area dihuni oleh 3 hingga 5 individu. Bahkan menurut penelitian yang dilakukan Andrzejewski & Jezierski dalam Leaper R. et al. (1999) melaporkan bahwa di Taman Nasional Kampinos di Polandia kerapatan/ populasi babi hutan bisa mencapai 10 individu/km2 dan masih tergolong wajar. Berdasarkan literature tersebut membuktikan bahwa jumlah populasi babi hutan di kawasan TN Kelimutu masih tergolong sangat wajar, dan belum mencapai tataran over populasi.
Home range atau daya jelajah babi hutan di kawasan TN Kelimutu belum bisa diketahui dengan pasti karena keberagaman/ karakteristik topografi kawasan yang berjurang dan bertebing tentunya akan mempersempit home range/ daya jelajah babi hutan. Namun secara umum ukuran/ luasan daya jelajah (home range) babi hutan menurut Gerard & Campan dalam Leaper, R. et al (1999) tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya kemelimpahan/ kerapatan/ populasi babi hutan, ketersedian sumber pakan, usia babi hutan, jenis kelamin, status psikologis dari babi hutan (tekanan/ stress), kualitas habitat, kerapatan populasi serta gangguan manusia. Dengan demikian ditemukannya babi hutan menjadi hama di beberapa tempat disekitar kawasan bisa disebabkan oleh faktor-faktor tersebut sehingga hal ini memungkinkan babi hutan melakukan pergerakan yang lebih luas, sehingga mencapai lokasi lahan-lahan masyarakat.
Pengamatan yang dilakukan dilapangan ditemukan jejak-jejak babi hutan seperti jejak kaki, bekas gusiran tanah oleh moncong babi hutan, bekas gigitan dipohon-pohon, serta ditemukan kubangan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap bekas-bekas tersebut babi hutan dapat diketahui bahwa babi hutan juga memakan fauna tanah seperti cacing, jangkrik dan sebagainya. Di wilayah Resort Ndona Timur ditemukan adanya sarang babi yang sudah ditinggalkan. Sarang yang ditinggalkan berupa tumpukan-tumpukan alang-alang dan ranting pohon yang tersusun sedemikian rupa sehingga Nampak ada rongga dibawahnya.
Serangan babi hutan sudah terjadi di wilayah Resort Kelimutu, Wolojita, Resort Wolojita dan Resort Ndona Timur. Di wilayah Resort Kelimutu hasil identifikasi lokasi ditemukan banyak kerusakan yang disebabkan keberadaan hama babi hutan dan juga ditemukan kerusakan yang disebabkan hama monyet ekor panjang. Hama babi hutan melakukan pengrusakan/mencari makan di saat malam hari, sehingga para petani yang mempunyai lahan olahan yang ditanami tanaman jenis umbi-umbian, jagung, maupun cabe harus melakukan kerja ekstra dimana harus menjaga kebun disaat malam hari. Masyarakat menjaga kebun dari serangan babi hutan dengan menggunakan anjing piaraan yang sudah dididik untuk membantu memburu babi hutan yang dating atau binatang lain seperti monyet yang datang hendak merusak tanaman.
Di keempat Resort Pengelolaan juga ditemukan adanya jerat/ jebakan yang dipasang untuk menjerat babi hutan yang masuk ladang masyarakat. Jerat babi hutan di pasang diluar kawasan di semak-semak yang ditengarai sebagai jalur lintasan babi hutan. Babi hasil jeratan biasanya akan dikonsumsi oleh masyarakat sebagai tambahan protein hewani, meskipun kadang-kadang juga dijual ke pasar. Selain itu untuk mengurangi akibat serangan babi hutan, masyarakat memagari kebun dengan pagar hidup berupa tanaman Gamal (Gliricidia sepium), namun hal ini tidak sepenuhnya efektif.
Pengamatan di sekitar Danau Kelimutu dalam kawasan dilakukan di sekitar helipad (areal feeding ground), hasil pengamatan ini dijumpai kawanan babi hutan sebanyak 8 ekor. Babi hutan memakan makanan sisa monyet ekor panjang (Maccaca fascicularis). Sisa makanan monyet ini berupa pisang dan ketela pohon yang merupakan makanan yang diberikan kepada monyet setiap hari di areal feeding ground. Keberadaan babi hutan di areal feeding ground merupakan proses kegiatan berburu babi hutan dalam mendapatkan makanan, dimana sumber pakan yang ada di dalam kawasan hutan sudah tidak ada sehingga berburu makanan ke areal feeding ground yang tersedia sumber pakan berupa ketela pohon ataupun pisang yang disediakan pengelola untuk makanan monyet ekor panjang.
Jejak dan bekas kubangan babi hutan juga ditemukan di daerah arboretum TN Kelimutu, di daerah ini ditemukan bekas gusiran babi hutan ke tanah yang diduga mencari fauna tanah karena karakteristik tanah arboretum yang lembab dan sangat gembur sehingga sangat banyak sekali potensi fauna tanahnya. Jalur-jalur lintasan babi hutan ditemukan dibelakang pos jaga TN Kelimutu. Di daerah ini banyak ditumbuhi kerinyu dengan ketinggian mencapai 2 hingga 3 meter. Sehingga mengakibatkan tanah di bawahnya menjadi sangat lembab dengan fauna tanah cacing juga melimpah. Dalam jalur-jalur lintasan juga terdapat bekas gigitan/ srudukan babi hutan di pohon-pohon yang berada disepanjang jalur lintasan. Babi hutan termasuk pemakan segala maka babi hutan juga memakan kulit-kulit kayu yang terkelupas.
Menurut Shawn (1985) dalam Napitu J., P. et al. mengemukakan bahwa komponen habitat yang dapat mengendalikan kehidupan satwa liar diantaranya adalah:
  1. Pakan (food), merupakan komponen habitat yang paling nyata dan setiap jenis satwa mempunyai kesukaan yang berbeda dalam memilih pakannya. Sedangkan ketersediaan pakan erat hubungannya dengan perubahan musim;
  2. Pelindung (cover), adalah segala tempat dalam habitat yang mampu memberikan perlindungan bagi satwa dari cuaca dan predator, ataupun menyediakan kondisi yang lebih baik dan menguntungkan bagi kelangsungan kehidupan satwa;
  3. Air (water), dibutuhkan oleh satwa dalam proses metabolisme dalam tubuh satwa. Kebutuhan air bagi satwa bervariasi, tergantung air dan/ atau tidak tergantung air.Ketersediaan air pada habitat akan dapat mengubah kondisi habitat, yang secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh pada kehidupan satwa;
  4. Ruang (space), dibutuhkan oleh individu-individu satwa untuk mendapatkan cukup pakan, pelindung, air dan tempat untuk kawin. Besarnya ruang yang dibutuhkan tergantung ukuran populasi, sementara itu populasi tergantung besarnya satwa, jenis pakan, produktivitas dan keragaman habitat.
Sehingga dalam pengelolaan satwa liar jenis babi hutan (Sus scrofa) perlu memperhatikan aspek-aspek tersebut diatas. Keberadaan babi hutan di lahan masyarakat yang bisa dikategorikan hama karena menyerang komoditi pertanian bisa disebabkan karena faktor-faktor tersebut diatas, akantetapi kebiasaan yang sudah ada di masyarakat yang sudah mempunyai binatang piaraan/ ternak berupa babi juga bisa menjadi pemicu yang mengakibatkan kedatangan babi hutan dari dalam kawasan untuk keluar kawasan (lahan masyarakat). Karena dibeberapa tempat yang diamati di kawasan TN Kelimutu menunjukkan kedatangan babi hutan yang menjangkau lokasi babi piaraan berada, seperti yang terjadi di desa Wiwipemo.
E. Penutup
Populasi babi hutan (Sus scrofa) di dalam dan di luar kawasan TN Kelimutu mencapai 3,57 individu/ km2 atau 4 individu (dibulatkan) babi hutan ditemukan per km2 luasan kawasan TN Kelimutu. Berdasarkan literature yang ada kepadatan populasi babi hutan (Sus scrofa) di kawasan TN Kelimutu masih tergolong wajar dan belum mencapai kategori over populasi.
Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengelolaan satwa liar jenis babi hutan (Sus scrofa) diantaranya perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam tentang potensi kemelimpahan babi hutan (Sus scrofa) di dalam kawasan TN Kelimutu. Pengelolaan satwa babi hutan lebih lanjut dilakukan studi tentang potensi babi hutan (Sus scrofa) untuk bisa dibudidayakan melalui program pemberdayaan masyarakat dan perlu dilakukan kajian potensi babi hutan (Sus scrofa) sebagai sumber protein bagi masyarakat sekitar kawasan dengan melakukan kajian detail mengenai kandungan protein hewani/ gizi.

F. Daftar Acuan
Hebeisen, C., J. Fattebert & E. Baubet & C. Fischer. 2008. Estimating wild boar (Sus scrofa) abundance and density using capture–resights in Canton of Geneva, Switzerland. Eur J Wildl Res 2008 54: 391–401. DOI 10.1007/ s10344-007-0156-5. ORIGINAL PAPER.
Leaper, R., G. Massei, M. L. Gorman & R. Aspinall. 1999. The Feasibility Of Reintroducing Wild Boar (Sus Scrofa) To Scotland. Mammal Rev. 1999, Volume 29, No. 4, 239–259. Printed in Great Britain. United Kingdom.
Napitu J., P. et al. 2007. Laporan Praktikum: “Konservasi Satwa Liar”. Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Shrestha, Mahendra Kumar. 2004. Relative Ungulate Abundance in a Fragmented Landscape: Implications for Tiger Conservation. A Thesis Submitted To The Faculty Of The Graduate School Of The University Of Minnesota.
Yong., L.E, B. P. Y-H. Lee, A. Ang and K. H. Tan. 2010. The Status on Singapore Island of the Eurasian Wild Pig Sus Scrofa (Mammalia: Suidae). Nature in Singapore 3: 227–237 Date of Publication: 7 September 2010, National University of Singapore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s